• Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Selamat Datang di Blog SITE SMP Islam Watulimo, Semoga membawa Kemanfaatan Untuk Kita Semuanya ...

  • Tim Paduan Suara HSN 2018

    Tim Paduan Suara SMP Islam Watulimo pada Peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2018

  • TIM PADUAN SUARA

    Tim Paduan Suara SMP Islam Watulimo pada acara APEL AKBAR Ansor-Banser Kabupaten Trenggalek

  • Lomba Jelajah Santri 2018

    Lomba Jelajah Santri Satuan Komunitas Pramuka Ma'arif NU Tingkat Jawa Timur Tahun 2018 di Bumi Perkemahan Serut Kabupaten Blitar.

  • LJS3-T 2019

    Juara Umum 3 Putri LJS3-T Tahun 2019 SAKO Ma'arif NU Kwarcab Trenggalek.

  • Bersama Masyayikh

    Bersama Masyayikh pada Kegiatan Pawai Ta'aruf dalam Rangka Hari Santri Nasional Tahun 2018 di Guwo Lowo.

Senin, 01 April 2019

PRESIDEN YANG LEBIH DARI PRESIDEN

The Legend of Kyai 😍
Gus Dur yang kala itu menjabat Presiden, orang nomor satu di negeri ini bisa bersikap rendah hati dan sabar saat dimarahi dan dibentak oleh seorang istri protokoler Istana.
“Bapak nggak pernah merasa tinggi hati, misalnya gini, kan ada tuh Kepala Protokol Istana dia cerita. Bapak pernah telepon dia jam 04.00 WIB pagi. Kan Bapak memang sudah bangun jam segitu, jam 05.00 WIB bapak itu mulai terima tamu sambil jalan kaki dan bapak itu suka mendadak ingin ketemu siapa hari itu dan biasanya telepon protokol,” ucap Inayah mengawali cerita.
Saat itu memang Kepala Protokol baru pulang malam. Gus Dur lalu menelepon menggunakan nomor ajudannya pukul 04.00 WIB pagi. Kebetulan yang menganggat telepon istri Kepala Protokol.
“Jadi pas di layar HP muncul nama ajudan kan. Diangkat sama istrinya dengan nada tinggi “Siapa inih?”
“Abdurrahman,” jawab Gus Dur.
“Mau ngapain!” tanya istri protokol dengan nada tinggi.
“Mau bicara sama Pak Wahyu ada?” jawab Gus Dur dengan logat Jawanya.
“Nggak ada! Tidur Pak Wahyu! Jam segini kok masih telepon aja,” katanya sambil memutus sambungan telepon. Lalu Gus Dur menelepon kembali.
“Siapa ini?” tanyanya.
“Abdurrahman,” jawaban yang sama diucapkan Gus Dur.
“Heh nggak tahu apa jam segini, ini waktunya orang tidur. Kalau perlu besok pagi aja, ganggu orang tidur!” lalu telepon ditutup.
Suara istri protokol yang keras itu membuat suaminya terbangun. Si suami lalu bertanya. “Siapa Mah?”
“Nggak tahu tuh Abdurrahman,” jawab si istri dengan nada kesal.
Lalu si suami melihat layar di HP, kaget bukan main saat dia tahu bahwa yang menelepon tadi ternyata Presiden.

“Mahhhh… itu Presiden!”.
Istrinya tak kalah kaget dan langsung lemas. “Haaaaaah! Gimana Pak saya ngomelin Presiden?”
Lalu setelah insiden itu, Ketua Protokoler Istana itu meminta maaf. Gus Dur tidak marah, dia hanya tertawa saja.

Sejarah Trenggalek

Dari berbagai sumber yang dapat dikumpulkan, kawasan Trenggalek telah dihuni selama ribuan tahun, sejak jaman pra-sejarah, dibuktikan dengan ditemukannya artifak jaman batu besar seperti : Menhir, Mortar, Batu Saji, Batu Dakon, Palinggih Batu, Lumpang Batu dan lain-lain yang tersebar di daerah-daerah yang terpisah.

Berdasarkan data tersebut, diketahui jejak nenek moyang yang tersebar dari Pacitan menuju ke Wajak Tulungagung dengan jalur-jalur sebagai berikut :
  1. Dari Pacitan menuju Wajak melalui Panggul, Dongko, Pule, Karangan dan menyusuri sungai Ngasinan menuju Wajak Tulungagung;
  2. Dari Pacitan menuju Wajak melalui Ngerdani, Kampak, Gandusari dan menuju Wajak Tulungagung;
  3. Dari Pacitan menuju Wajak dengan menyusuri Pantai Selatan Panggul, Munjungan, Prigi dan akhirnya menuju ke Wajak Tulungagung.
Menurut HR VAN KEERKEREN, Homo Wajakensis (manusia purba wajak) (mencari-jejak-manusia-wajak.html) hidup pada masa plestosinatas, sedangkan peninggalan-peninggalan manusia purba Pacitan berkisar antara 8.000 hingga 23.000 tahun yang lalu. Sehingga, disimpulkan bahwa pada jaman itulah Kabupaten Trenggalek dihuni oleh manusia.  
Walaupun banyak ditemukan peninggalan manusia purba, untuk menentukan kapan Kabupaten Trenggalek terbentuk belum cukup kuat karena artifak-artifak tersebut tidak ditemukan tulisan. Baru setelah ditemukannya prasasti Kamsyaka atau tahun 929 M, dapat diketahui bahwa Trenggalek pada masa itu sudah memiliki daerah-daerah yang mendapat hak otonomi / swatantra, diantaranya Perdikan Kampak berbatasan dengan Samudra Indonesia di sebelah Selatan yang pada waktu itu wilayahnya meliputi Panggul, Munjungan dan Prigi. Disamping itu, disinggung pula daerah Dawuhan dimana saat ini daerah Dawuhan tersebut juga termasuk wilayah Kabupaten Trenggalek. Pada jaman itu tulisan juga sudah mulai dikenal.
Setelah ditemukannya Prasasti Kamulan yang dibuat oleh Raja Sri Sarweswara Triwi-kramataranindita Srengga Lancana Dikwijayatunggadewa atau lebih dikenal dengan sebutan Kertajaya (Raja Kediri) yang juga bertuliskan hari, tanggal, bulan, dan tahun pembuatannya, maka Panitia Penggali Sejarah menyimpulkan bahwa hari, tanggal, bulan dan tahun pada prasasti tersebut adalah Hari Jadi Kabupaten Trenggalek.

Sejarah Singkat Pemerintahan :

Seperti halnya daerah-daerah lain, di jaman itu Kabupaten Trenggalek juga pernah mengalami perubahan wilayah kerja. Beberapa catatan tentang perubahan tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Dengan adanya Perjanjian Gianti tahun 1755, Kerajaan Mataram terpecah menjadi dua, yaitu Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Wilayah Kabupaten Trenggalek seperti didalam bentuknya yang sekarang ini, kecuali Panggul dan Munjungan, masuk ke dalam wilayah kekuasaan Bupati Ponorogo yang berada di bawah kekuasaan Kasunanan surakarta. Sedangkan Panggul dan Munjungan masuk wilayah kekuasaan Bupati Pacitan yang berada di bawah kekuasaan Kasultanan Yogyakarta.
  2. Pada tahun 1812, dengan berkuasanya Inggris di Pulau Jawa (Periode Raffles 1812-1816) Pacitan (termasuk didalamnya Panggul dan Munjungan) berada di bawah kekuasaan Inggris dan pada tahun 1916 dengan berkuasanya lagi Belanda di Pulau Jawa, Pacitan diserahkan oleh Inggris kepada Belanda termasuk juga Panggul dan Munjungan.
  3. Pada tahun 1830 setelah selesainya perang Diponegoro, wilayah Kabupaten Trenggalek, tidak termasuk Panggul dan Munjungan, yang semula berada dalam wilayah kekuasaan Bupati ponorogo dan Kasunanan Surakarta masuk di bawah kekuasaan Belanda. Dan, pada jaman itulah Kabupaten Trenggalek termasuk Panggul dan Munjungan memperoleh bentuknya yang nyata sebagai wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten versi Pemerintah Hindia Belanda sampai disaat dihapuskannya pada tahun 1923.Alasan atau pertimbangan dihapuskannya Kabupaten Trenggalek dari administrasi Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu secara pasti tidak dapat diketahui. Namun diperkirakan mungkin secara ekonomi Trenggalek tidak menguntungkan bagi kepentingan pemerintah kolonial Belanda.Wilayahnya dipecah menjadi dua bagian, yakni wilayah kerja Pembantu Bupati di Panggul masuk Kabupaten Pacitan dan selebihnya wilayah pembantu Bupati Trenggalek, sedangkan Karangan dan Kampak masuk wilayah Kabupaten Tulungagung sampai dengan pertengahan tahun 1950.
  4. Dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950, Trenggalek menemukan bentuknya kembali sebagai suatu daerah Kabupaten di dalam Tata Administrasi Pemerintah Republik Indonesia. Saat yang bersejarah itu tepatnya jatuh pada seorang Pimpinan Pemerintahan (acting Bupati) dan seterusnya berlangsung hingga sekarang.Seorang Bupati pada masa Pemerintahan Hindia Belanda yang terkenal sangat berwibawa dan arif bijaksana adalah MANGOEN NEGORO II yang terkenal dengan sebutan KANJENG JIMAT yang makamnya terletak di Desa Ngulankulon Kecamatan Pogalan. Dan untuk menghormati Beliau, nama "KANJENG JIMAT" diabadikan sebagai salah satu jalan di Kabupaten Trenggalek.

Sekilas Trenggalek
Kabupaten  Trenggalek  dengan  luas  wilayah  126.140  Ha,  dimana  2/3  bagian luasnya  merupakan  tanah pegunungan,  terbagi  menjadi  14  Kecamatan  dan  157  Desa. Sedangkan luas laut 4 mil dari daratan adalah 711,17   km. Jumlah penduduk tahun 2014    sebanyak 818.797 jiwa  terdiri  dari 50,34 % laki-laki dan 49.66 % wanita, dengan kepadatan penduduk 649jiwa/km2.

Jumlah  rumah  sakit  4,  puskesmas  22,  puskesmas  pembantu  66,  dan  jumlah tenaga medis diantaranya dokter umum 99,  spesialis 28,  D -III  perawat 475,  D -III  bidan 216, serta apoteker 69   orang. Dari sisi pendidikan tercatat jumlah fasilitas pendidikan SD, SLTP, SLTA masing–masing sejumlah 442,78, dan 45 buah. 

Pada kegiatan Industri Pengolahan tercatat jumlah perusahaan sebanyak 23.963 buah dengan nilai investasi 85,865 milyar rupiah dan nilai produksi sebesar 1.617,209 milyar rupiah. Sedangkan jumlah desa yang teraliri listrik sebanyak 157 desa atau sudah  menjangkau seluruh desa yang ada dengan pelanggan sebanyak 167.892 pelanggan.  

Luas areal sawah sebesar 12.160 Ha, tanah kering 39.514 Ha, dan perkebunan 2.536 Ha,  menghasilkan  padi sawah &  ladang  sebesar 339.218 ton  padi, 76.294 ton jagung, 425.617 ton ubi kayu serta komoditi pertanian lainnya. Disamping itu Kabupaten Trenggalek  yang berbatasan dengan  laut  mempunyai 3.549 rumahtangga nelayan,  dan selama tahun 2014 menghasilkan ikan sebanyak 18.183 ton.   

Kabupaten  Trenggalek  mempunyai  banyak  obyek  wisata,  5  diantaranya  sudah diberdayakan  dengan  jumlah pengunjung  selama  tahun 2014  tercatat 531.478 orang. Sedangkan  dari  segi  prasarana  jalan  tercatat panjang  jalan  seluruhnya 1.045,02 Km dimana 949,95 Km merupakan jalan Kabupaten, dimana 62,84 % kondisinya baik, 26,37 % kondisi sedang, 7,72 % rusak ringan dan 3,06   % rusak berat. 

Kabupaten  Trenggalek  dalam  era  otonomi  daerah  mempunyai  penerimaan daerah sebesar 1.498.350 (juta rupiah) dan pengeluaran daerah sebesar 1.372.622 (juta rupiah). 

Pelaksanaan pembangunan ini telah membuahkan hasil yang menggembirakan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tahun 2014 tercatat 5,41% dimana sektor pertanian masih  mendominasi  dalam  pembentukan  PDRB  yaitu  sebesar 31,21%,  disusul  sektor perdagangan Besar dan Eceran 15,2  3 %,   sektor Industri Pengolahan 14,00 %,sedangkan sektor lainnya kurang dari 10 persen.

Senin, 25 Maret 2019

Serahkan SK CPNS, Plt Bupati Trenggalek Berharap Tenaga Baru Bisa Membawa Semangat Perubahan


Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Trenggalek, H. Mochamad Nur Arifin, serahkan surat keputusan pengangkatan bagi 377 CPNS di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Senin (25/3/2019).
.
Hadir pula dalam acara tersebut, Sekretaris Daerah Kabupaten Trenggalek, Ir. Joko Irianto, M.Si., Kepala BKD Trenggalek, Drs. Pariyo, pimpinan OPD dan segenap undangan lainnya.
.
Sebanyak 377 CPNS penerima surat keputusan tersebut terdiri dari tenaga guru sejumlah 227 orang, tenaga kesehatan sejumlah 109 orang dan tenaga teknis sebanyak 41 orang.
.
Kepala BKD Trenggalek, Drs. Pariyo, dalam laporannya menyampaikan bahwa pengadaan formasi CPNS tahun 2018 dimulai sejak bulan November dan formasi yang didapat sebanyak 389 formasi.
.
"Dari ribuan pelamar yang mengikuti seleksi CPNS di Trenggalek, akhirnya sebanyak 377 orang pada tanggal 22 Maret 2019 kemarin telah diterbitkan NIP dari BKN," terangnya.
.
Sementara itu, Plt. Bupati Nur Arifin menuturkan bahwa penerimaan CPNS ibarat peremajaan sel-sel tubuh atau penyegaran. Hal itu karena adanya tenaga lama yang telah memasuki masa purna tugas akan digantikan dengan tenaga baru.
.
Diharapkan dengan tenaga baru tersebut dapat membawa semangat perubahan di Kabupaten Trenggalek dengan bekerja dengan sebaik-baiknya.
.
"Berada di sektor publik, diharapkan para abdi negara ini bisa memberikan pelayanan prima terhadap masyarakat, sehingga ada kepuasan bagi yang kita layani," ungkap Nur Arifin.
.
Dalam penyerahan surat keputusan tersebut, Plt. Bupati Nur Arifin juga menyinggung tentang upaya curang dalam perekrutan CPNS dan menyebut hal itu sebagai suatu kebodohan. .
"Jangan percaya bila ada yang janji-janji, karena semuanya dilakukan dengan sistem komputerisasi, sehingga tidak ada celah kecurangan dalam proses ini. Diterima menjadi CPNS merupakan hasil dari kecerdasan anda, bukannya karena bantuan dari orang lain," tuturnya.
.
"Dan ingat, anda belum diangkat menjadi PNS, maka bekerjalah dengan sebaik-baiknya sampai anda ditetapkan menjadi PNS," tegas Plt. Bupati Nur Arifin. (Humas)


RAIS AM DAN KETUA TANFIDHIYAH DARI MASA KE MASA

RAIS AM DAN KETUA TANFIDHIYAH PBNU
DARI MASA KE MASA

Muktamar NU ke-1 (Surabaya, 1926):
✅ KH. Hasyim Asy'ari (Rais Akbar)
✅ H. Hasan Gipo (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-2 (Surabaya, 1927):
✅ KH. Hasyim Asy'ari (Rais Akbar)
✅ H. Hasan Gipo (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-3 (Surabaya, 1928):
✅ KH. Hasyim Asy'ari (Rais Akbar)
✅ H. Hasan Gipo (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-4 (Semarang, 1929):
✅ KH. Hasyim Asy'ari (Rais Akbar)
✅ KH. Achmad Nor (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-5 (Pekalongan, 1930):
✅ KH. Hasyim Asy'ari (Rais Akbar)
✅ KH. Achmad Nor (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-6 (Cirebon, 1931):
✅ KH. Hasyim Asy'ari (Rais Akbar)
✅ KH. Achmad Nor (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-7 (Bandung, 1932):
✅ KH. Hasyim Asy'ari (Rais Akbar)
✅ KH. Achmad Nor (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-8 (Jakarta, 1933):
✅ KH. Hasyim Asy'ari (Rais Akbar)
✅ KH. Achmad Nor (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-9 (Banyuwangi, 1934):
✅ KH. Hasyim Asy'ari (Rais Akbar)
✅ KH. Achmad Nor (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-10 (Surakarta, 1935):
✅ KH. Hasyim Asy'ari (Rais Akbar)
✅ KH. Achmad Nor (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-11 (Banjarmasin, 1936):
✅ KH. Hasyim Asy'ari (Rais Akbar)
✅ KH. Achmad Nor (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-12 (Malang, 1937):
✅ KH. Hasyim Asy'ari (Rais Akbar)
✅ KH. Machfudz Siddiq (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-13 (Banten, 1938):
✅ KH. Hasyim Asy'ari (Rais Akbar)
✅ KH. Machfudz Siddiq (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-14 (Magelang, 1939):
✅ KH. Hasyim Asy'ari (Rais Akbar)
✅ KH. Machfudz Siddiq (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-15 (Surabaya, 1940):
✅ KH. Hasyim Asy'ari (Rais Akbar)
✅ KH. Machfudz Siddiq (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-16 (Purwokerto, 1946):
✅ KH. Hasyim Asy'ari (Rais Akbar)
✅ KH. Nachrowi Tohir (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-17 (Madiun, 1947):
✅ KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam)
✅ KH. Nachrowi Tohir (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-18 (Jakarta, 1948):
✅ KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam)
✅ KH. Nachrowi Tohir (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-19 (Palembang, 1951):
✅ KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam)
✅ KH. Abdul Wahid Hasyim (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-20 (Surabaya, 1954):
✅ KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam)
✅ KH. Muhammad Dahlan (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-21 (Medan, 1956):
✅ KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam)
✅ KH. Idham Chalid (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-22 (Jakarta, 1959):
✅ KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam)
✅ KH. Idham Chalid (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-23 (Surakarta, 1962):
✅ KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam)
✅ KH. Idham Chalid (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-24 (Bandung, 1967):
✅ KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam)
✅ KH. Idham Chalid (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-25 (Surabaya, 1971):
✅ KH. Bisri Syansuri (Rais Aam)
✅ KH. Idham Chalid (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-26 (Semarang, 1979):
✅ KH. Bisri Syansuri (Rais Aam)
✅ KH. Idham Chalid (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-27 (Situbondo, 1984):
✅ KH. Achmad Siddiq (Rais Aam)
✅ KH. Abdurrahman Wahid (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-28 (Yogyakarta, 1989):
✅ KH. Achmad Siddiq (Rais Aam), Beliau wafat tahun 1991 kemudian diganti oleh KH. M. Ilyas Ruchiyat menjadi Pjs Rais Aam 1992-1994
✅ KH. Abdurrahman Wahid (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-29 (Tasikmalaya, 1994):
✅ KH. M. Ilyas Ruchiyat (Rais Aam)
✅ KH. Abdurrahman Wahid (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-30 (Kediri, 1999):
✅ KH. MA. Sahal Machfudh (Rais Aam)
✅ KH. A. Hasyim Muzadi (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-31 (Surakarta, 2004):
✅ KH. MA. Sahal Machfudh (Rais Aam)
✅ KH. A. Hasyim Muzadi (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-32 (Makassar, 2010):
✅ KH. MA. Sahal Machfudh (Rais Aam), Beliau wafat tahun 2014 kemudian diganti oleh KH. A. Musthofa Bisri menjadi Plt Rais Aam 2014-2015
✅ KH. Said Aqil Siroj (Ketua Tanfidziyah)

Muktamar NU ke-33 (Jombang, 2015):
✅ KH. Ma'ruf Amin (Rais Aam)
✅ KH. Said Aqil Siroj (Ketua Tanfidziyah)

Sumber:
Gedung PWNU Jawa Timur

Sabtu, 23 Maret 2019

Apel Gelar Pasukan Gabungan Pengamanan Pemilu 2019 di Trenggalek

Jelang Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2019. Polres Trenggalek, Kodim 0806 Trenggalek bersama Pemkab Trenggalek menggelar apel pasukan dalam rangka pengamanan Pemilu Serentak pada 17 April 2019 mendatang.

Diikuti ratusan peserta apel mulai dari pasukan TNI-Polri, Ormas, Linmas serta OPD terkait. Apel gabungan yang digelar di alun-alun Trenggalek dipimpin langsung oleh Kapolres Trenggalek AKBP Didit Bambang Wibowo S, S.I.K., M.H., Dandim 0806 Trenggalek Letkol Inf Dodik Novianto, S.Sos dan Plt. Bupati Trenggalek H. Moch. Nur Arifin. Jumat (22/03)

Membacakan sambutan Menko Polhukam, Kapolres Trenggalek AKBP Didit Bambang Wibowo S, S.I.K., H.H menyampaikan Pemilu serentak tahun ini merupakan pesta demokrasi yang akan menjadi tonggak sejarah di Indonesia, bahwasannya dalam pemilu tersebut ada lima jenis pemilihan dalam waktu yang bersamaan.

Sukses tidaknya perheletan demokrasi ini sangat tergantung pada semua pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Ucap Kapolres Didit

Lebih lanjut AKBP Didit mengatakan momentum tersebut adalah sebagai ajang kompetensi program dan kapabilitas untuk mendapakan kepercayaan rakyat yang akan memilih menjadi pemimpin Nasional. Ditambahkan olehnya TNI-Polri akan bertanggungjawab penuh dalam mengamankan pemilu serentak tahun ini.

Saya berharap prajurit TNI-Polri dan komponen masyarakat yang dilibatkan agar melaksanakan tugas ini dengan penuh dedikasih dan rasa tanggung jawab. Imbuh Kapolres Didit

Sementara itu Plt. Bupati Trenggalek H. Moch. Nur Arifin dalam amanatnya mengatakan pengamanan Pemilu serentak 2019 ini sangat penting. Beliau meminta pada semua stakholder terkait satu pemahaman dalam mengamankan pemilu tahun ini agar berjalan dengan lancar.

Mari kita wujudkan pesta demokrasi ini benar-benar pestanya rakyat. Mengapa kita sebut pesta karena rakyat berhak berkesempatan untuk memilih pemimpin yang baik. Ucap Cak Apin.

Sedangkan Dandim 0806 Trenggalek Letkol Inf Dodik Novianto, S.Sos menambahkan, perlu adanya sinergi dalam pengamanan Pemilu Serentak ini, terkhusus di Kabupaten Trenggalek.

Kami Kodim 0806 Trenggalek akan mendukung penuh dalam rangka pengamanan Pemilu 2019. Dan kita semuanya menjaga serta memegang teguh netralitas TNI. Imbuhnya. Diskominfo Trenggalek

Pentingnya NU dalam Ekosistem Digital

Dunia saat ini tengah memasuki disrupsi digital. Hal-hal yang biasa dilakukan dengan luring (offline) mulai bermigrasi masuk ke dalam jaringan (online). Perubahan ini juga berdampak pada perubahan sosial dan ekonomi masyarakat.

Nahdlatul Ulama sebagai organisasi massa Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia tentu punya ruang terbuka berperan dalam proses tersebut.

"NU harus bisa menjadi komunitas yang terbuka, berkolaborasi dengan pemain-pemain digital," kata Ainun Najib, praktisi digital, kepada NU Online, Kamis (21/3) malam.

Kolaborasi ini menurutnya, akan berdampak positif pada percepatan pertumbuhan dunia digital Indonesia. Pasalnya, dalam konteks Indonesia, jumlah warga NU paling besar di samping mampu berkolaborasi dengan masyarakat umum karena penghormatannya terhadap kemajemukan.

Ainun mencontohkan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah NU (LAZISNU), misalnya, dapat bekerja sama dengan website atau aplikasi crowdfunding. Dengan unicorn, misalnya, guna menarik nahdliyin menawarkan produknya di sana. NU juga, menurutnya, bisa berupaya membantu start-up yang baru dirintis.

"Jadi tidak hanya menjadi pasar, pengguna, tetapi juga sebagian generasi muda NU ikut menjadi pemain digital," ungkapnya.

Pria alumnus Nanyang Technological University (NTU) Singapura itu menjelaskan bahwa membangun ekosistem digital itu bisa mulai dengan mendirikan jaringan komunikasi warganya. Dengan adanya itu, NU bisa bekerja sama dengan platform untuk menyelesaikan kebuntuan kebutuhan nahdliyin.

Sinergitas dan kolaborasi NU ini menghasilkan hal yang positif dan keuntungan di semua pihak, baik NU, nahdliyin, penyedia platform, hingga pemerintah. 

"Hanya NU-lah komunitas di nusantara ini yang paling besar dan berwawasan terbuka menerima, menjaga dan melestarikan kemajemukan dan melihatnya sebagai kekuatan yang harus dimanfaatkan," pungkasnya. 


Sumber : NU Online

Tingkeban Akbar 196 Emak NU

Pertama dan Terbesar di Indonesia. Mengangkat Tradisi selamatan dan doa untuk ibu hamil agar dianugerahi keselamatan dan putra-putri shalihah untuk masa depan agama, bangsa dan negara.
Digelar dalam rangka memperingati Harlah ke-96 Nahdlatul Ulama, 16 Rajab 1440 H.
Sebuah ikhtiar Nahdlatul Ulama menyiapkan generasi emas, sejak dari kandungan ibu menuju kejayaan Indonesia menyambut usia 1 abad NU tahun 2023 dan 1 Abad NKRI pada tahun 2045.
Ikuti dan Hadiri 
Sabtu, 23 Maret 2019
mulai 19.00 WIB 
di Parkir Utara Kantor PWNU Jawa Timur.


Sumber : PWNU Jatim